Pengunjung Online : 412
Hari ini :899
Kemarin :19.731
Minggu kemarin:120.950
Bulan kemarin:455.925

Anda pengunjung ke 48.874.381
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Khamis, 27 Dzul Hijjah 1435 (Rabu, 22 Oktober 2014)
Beranda > Berita > Permainan Tradisional Terancam Hilang
8 Juli 2008 05:06

Permainan Tradisional Terancam Hilang

 
Permainan Tradisional Terancam Hilang

Padang, Sumatra Barat- Sejumlah permainan tradisional Sumatera Barat terancam hilang, terutama karena perubahan zaman. Oleh karena itu, sejumlah kelompok masyarakat berupaya memperkenalkan permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak.

Mifta Hulda (11), Zaki (14), Abdul Halim (12), dan Mari Muhammad (10), keempatnya anak-anak asal Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (7/7), mengatakan mengenal permainan tradisional dari sekolah mereka di SD 01 Situjuah Batu, Kabupaten Limapuluh Kota.

”Di sekolah dikenalkan enggrang, terompah panjang, dan terompah galuak. Senang juga memainkan permainan itu. Seru. Sebelum ada pengenalan dari sekolah, kami tidak tahu permainan tradisional,” kata Miftah.

Muhammad Kahfi (12), warga Kota Padang, juga mengaku mengenal permainan tradisional dari pelajaran di sekolah. Dia senang bisa memainkan permainan tradisional karena memberikan tantangan tersendiri baginya.

Enggrang adalah alat kayu yang mempunyai penyangga agar anak bisa berjalan dengan menggerakkan alat ini. Dibutuhkan keseimbangan dan keterampilan agar tidak jatuh dari enggrang.

Terompah panjang atau yang juga dikenal dengan bakiak merupakan sandal kayu panjang yang dimainkan oleh tiga anak sekaligus. Dibutuhkan kekompakan untuk bisa berjalan dengan terompah panjang.

Adapun terompah galuak terbuat dari sepasang tempurung kelapa yang dipasangi tali penghubung. Anak menaruh telapak kaki di kedua tempurung dan berjalan dengan mengendalikan tempurung lewat tali.

”Sebelumnya, pelajaran olahraga hanya diisi dengan permainan bola besar dan kecil. Dengan permainan tradisional ini, anak bisa mengenal permainan asli dari daerah mereka,” tutur Amril.

Kepala Museum Adityawarman Usria Dhavida mengatakan, permainan tradisional itu bisa membentuk karakter anak seperti kejujuran dan kreativitas, sekaligus sebagai ajang sosialisasi dengan teman-teman sebaya.

”Sayangnya, permainan tradisional itu sudah tergantikan dengan permainan elektronik seperti playstation. Selain itu, anak juga sudah sibuk dengan pelajaran,” kata Usria. (ART)

Sumber : cetak.kompas.com (8 Juli 2008)
Kredit foto : www.wisatamelayu.com

Dibaca 6.265 kali

Share
Facebook

Tulis komentar Anda !




Custom Search