Pengunjung Online : 1.599
Hari ini :13.334
Kemarin :22.914
Minggu kemarin:134.185
Bulan kemarin:459.585

Anda pengunjung ke 49.120.258
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Jum'ah, 25 Safar 1436 (Kamis, 18 Desember 2014)
Beranda > Berita > Wisata Alam di Pojok Jakarta
11 Juli 2008 04:12

Wisata Alam di Pojok Jakarta

 
Wisata Alam di Pojok Jakarta

Jakarta– Pada musim libur sekolah kali ini, wisata alam tampaknya masih menjadi primadona. Kualitas udara dan alam menjadi salah satu pertimbangan mengapa sebagian orang lebih memilih wisata tersebut. Anak-anak juga dapat lebih mengenal tumbuhan dan hewan yang jarang ditemui di Ibu Kota tercinta ini. Seperti yang diketahui, wisata alam biasanya terdapat di wilayah sejuk seperti Bandung dan Bogor.

Wah, luar kota? Hmmm... sejumlah orang berpikir ulang berlibur ke luar kota. Berbagai macam alasannya, BBM naik, jauh, macet, dan lain-lain.  Jika hal itu yang menjadi pertimbangannya, kenapa tidak mencoba wisata alam di sekitar Jakarta.

Di pojok selatan Jakarta ada tempat yang disebut Tanah Tingal. Lokasinya di Jalan Merpati, Ciputat, Tangerang. Meski udaranya tak sesejuk di Bandung atau Bogor, tapi fasilitas wisata alam tersedia di sini. Mulai dari ayunan, kolam renang, flying fox, hingga berlayar dengan kano, dapat dinilkmati di antara rindangnya pepohonan yang berusia lebih dari 20 tahun.

Akhir pekan lalu, Kompas.com menyambangi tempat ini. Saat memasuki kompleks Tanah Tingal, pintu masuknya yang diawali jalan setapak tidak begitu mencolok karena tertutup pepohonan yang rindang, seperti pohon beringin dan pohon bodhi. Pohon bodhi merupakan tanaman langka yang telah berumur hampir 30 tahun. Konon, pohon ini merupakan tempat Sang Buddha bersemedi dan mendapat pencerahan hidup. Oleh karena itu, pengelola menempatkan sebuah patung Buddha di bawahnya.

Pohon ini memiliki struktur tinggi besar yang berbeda dengan pohon beringin yang relatif pendek dan memiliki akar menggantung di sepanjang batangnya. Berbeda dengan pohon bodhi, pohon beringin saat ini masih banyak dijumpai di beberapa tempat di Jakarta, seperti di sekitar Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Jalan masuknya hanya dapat dilewati oleh dua orang secara berjajar. Jalan setapak ini terbuat dari batu bata dan bebatuan. Tak begitu jauh berjalan, ada sejumlah meja dan kursi sebagai tempat untuk makan dan bersantai. Sementara, di sampingnya terdapat area bermain anak dengan mainan yang sedikit berbeda dengan mainan di taman kota.

Mainan ketangkasan di sini lebih menantang, seperti jembatan tali dan jembatan goyang. Jembatan  tali, mengharuskan anak menyeberangi tali sepanjang empat meter dengan bantuan seutas tali yang tergantung di atasnya. Demikian halnya dengan jembatan goyang. Jembatan ini relatif lebih mudah dilalui karena seutas tali yang digunakan sebagai jembatan diikat dengan dua buah tali penyeimbang untuk meminimalisir goyangan. Menarik bukan? Lalu bagaimana wahana di dalamnya?

Nah, untuk dapat masuk ke wahana dalam, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk Rp15.000 per kepala. Cukup murah bukan? Namun sayangnya, tiket tersebut bukan tiket terusan. Tiket ini hanya untuk biaya masuk dan berenang. Jangan khawatir, untuk bermain di sejumlah wahana, pengunjung hanya dikenakan biaya tambahan antara Rp10.000-Rp25.000 per orang. Biaya tambahannya bisa dibayar langsung di tempat wahana.

Selepas membeli tiket, Anda akan disambut oleh segarnya aroma air dari kolam renang yang berusia 27 tahun. Wow, meski umurnya lebih dari seperempat abad, kolam ini tetap terjaga kebersihannya. Kolam yang berbentuk daun (sesuai simbol Tanah Tingal) itu, tampak ramai oleh jeritan anak-anak yang sedang menikmati liburan sekolahnya. Kolam ini juga dikelilingi oleh pepohonan yang tak kalah rindangnya dengan pepohonan di depan pintu masuk.

Di taman belakang tersebut, Tanah Tingal juga memiliki koleksi sejumlah pohon langka, seperti pohon randu (pohon penghasil kapas). “Setahun kemarin, pohon ini belum tergolong langka, sekarang varietasnya tinggal sedikit. Oleh karena itu, kami berusaha mengajak anak-anak untuk melestarikan kekayaan alam ini. Sebenarnya, tanaman langka yang kami punya tidak sengaja ditanam di sini. Kami bahkan tidak tahu dari mana asalnya. Seperti pohon bodhi di depan, mungkin karena kami memiliki keterikatan dengan candi Borobudur, makanya pohon ini ada,” ujar Marketing Sales Tanah Tingal, Rudi Krul, siang itu.

Sejumlah wahana yang menantang adrenalin terdapat di taman belakang yang juga digunakan sebagai sekolah, tempat budidaya anggrek, dn berbagai varietas tanaman philodendron serta hutan liar ini. Ada flying fox dengan tingkat tantangan standar. Flying fox ini dapat digunakan anak-anak, remaja, dan dewasa. Untuk merasakan gereget ketegangan wahana ini pengunjung harus membayar biaya tambahan Rp 0.000. Perlengkapan berbagai ukuran sudah tersedia di pintu masuk wahana flying fox.

“Ada beberapa tingkatan, untuk anak-anak kami gunakan tali luncur yang lebih rendah. Ini yang menjadi keunggulan kami. Ingatan di massa kanak-kanak itu akan memengaruhi nanti saat dia besar. Misalkan, kalau dia habis flying fox dia takut karena terlalu tinggi. Besarnya nanti ada kemungkinan dia jadi phobia. Nah, kami ingin anak-anak meluncur, tapi tidak membuat dia trauma,” Rudi menjelaskan.

Tak jauh dari situ, ada sebuah danau mini yang biasa digunakan untuk bermain kano. Rugi kalau tak mencoba wahana yang satu ini. Tak usah takut, keselamatan tetap diutamakan. Setiap pengunjung wajib menggunakan rompi pelampung dan akan didampingi instruktur. Namun, Anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi karena diperlukan uang sebesar Rp 5.000 per orang untuk merasakan goyangan perahu kecil ini.

Nah, setelah berbasah-basah ria, pengunjung masih bisa menikmati indahnya ribuan tangkai anggrek yang ada di pusat pengembangbiakan tanaman Tanah Tingal. Pengunjung pun dapat memilikinya dengan harga cukup murah, sekitar Rp 10.000- Rp 15.000 per pohon. Sayangnya, saat ini kebun anggrek Tanah Tingal ditutup untuk umum karena sedang direlokasi untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas keindahannya.

Lebih masuk lagi ke dalam area seluas 10 hektar itu terdapat gubuk yang digunakan sebagai tempat penyimpanan alat musik tradisional, seperti gamelan. Seperangkat gamelan terdapat di teras gubuk tersebut. Gamelan itu jarang digunakan karena lapisan kuningannya masih rapi. Selain itu, debu tebal dan kawanan laba-laba asyik beristirahat di lubang Gong Gamelan.

“Kebetulan, Alm Boediardjo (pendiri Tanah Tingal)  juga pencinta seni. Memang sih awalnya kami buka untuk umum. Tapi lama-kelamaan kami kesulitan merangkul peminat. Mungkin yang biasanya sudah merasakan kenikmatan genjrengan gitar elektrik, malas untuk memukul-mukul gamelan. Ha-ha-ha,” kata Rudi.

Tanah Tinggal juga memberikan pembelajaran kepada pengunjung mengenai kelestarian alam. Buktinya, Tanah Tinggal membiarkan lahan seluas tiga hektar menjadi hutan kecil. Pengunjung juga diajarkan untuk membuat kompos dari sampah tanaman. Sesuai misi tempat ini, pengelola sedang memutar otak untuk mengelola sampah plastik. “Targetnya pada 2012 kami tidak akan mengeluarkan sampah. Kami akan mengolahnya sendiri menjadi bahan-bahan yang berguna,” jelasnya.

Program

Kalau ke Tanah Tinggal memang kurang asyik jika sendirian. Sebaiknya Anda kumpulkan teman-teman beserta anak dan keponakan untuk menikmati liburan seru di sini. Sebab, dengan datang secara berkelompok, pengunjung dapat menikmati program permainan. Bukan hanya bermain, pengunjung juga dapat belajar bekerja sama dengan orang lain dan tentunya lebih mengenal alam.

“Konsep awalnya memang untuk outdoor training sih. Fokusnya untuk perusahaan, tapi kami juga menyediakan program anak-anak dan remaja. Ada beberapa program, Professional Development Program untuk perusahaan dan untuk anak ada Outing Toddler serta Outing Kids. Sementara untuk remaja, ada Program Bintang Harapan, Latihan Dasar Kepemimpinan. Oleh karena itu, beberapa wahana bersifat knockdown. Kalau ada jadwal pelatihan baru kami pasang,” katanya. (BOB) (Rita Ayuningtyas)

Sumber : www.kompas.com (11 Juli 2008)

Dibaca 14.218 kali

Share
Facebook

Tulis komentar Anda !




Custom Search