Pengunjung Online : 1.357
Hari ini :10.311
Kemarin :15.095
Minggu kemarin:93.155
Bulan kemarin:318.741

Anda pengunjung ke 48.389.925
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Khamis, 25 Ramadhan 1435 (Rabu, 23 Juli 2014)
Beranda > Berita > Kondisi Danau Toba Dinilai Mengkhawatirkan
18 Februari 2009 04:14

Kondisi Danau Toba Dinilai Mengkhawatirkan

 
Kondisi Danau Toba Dinilai Mengkhawatirkan

Medan, Sumatra Utara - Gubernur Sumatera Utara, H Syamsul Arifin mengaku sangat mengkhawatirkan kondisi ekosistem Danau Toba yang terus menurun dan bisa mematikan objek wisata andalan Sumut itu.

"Karenanya ke depan harus kembali digalakkan pelaksanaan berbagai proyek yang berorientasi ke masa depan di Danau Toba agar objek wisata ini kembali hidup," katanya ketika membuka Rapat III Dewan Manajemen Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Danau Toba (BKPEDT) di Medan, Selasa (17/2).

Ia mengakui kawasan Danau Toba saat ini mengalami tekanan oleh beragam aktivitas yang kurang mengindahkan prinsip kelestarian lingkungan, seperti pembakaran lahan dan semak belukar untuk mendapatkan rumput ternak atau dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah dan sampah.  Padahal, dalam UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan PP No 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Danau Toba telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis nasional.

"Karena itu untuk mengelola Danau Toba yang berwawasan lingkungan, saya minta proyek yang dilaksanakan berorientasi masa depan tidak hanya seremonial. Kalau tidak, dalam 10 tahun ke depan Danau Toba bisa saja jadi tinggal kenangan," katanya.

Gubernur juga meminta pengelolaan Danau Toba bisa memberi kesejahteraan secara ekonomi kepada seluruh masyarakat di kawasan Pantai Barat Sumut. Karena itu ia meminta para pihak termasuk para tokoh Batak di perantauan memberi masukan bagi pembenahan ekosistem Danau Toba.

Menurutnya dewasa ini Danau Toba tidak hanya dihadapkan pada masalah kritisnya lahan penghijauan di kawasan daerah tangkapan air, tetapi juga menyangkut limbah domestik, persoalan keramba jaring apung, termasuk harus menerima dampak dari operasional pabrik di sekitar ekosistem Danau Toba. "Ini yang harus dicarikan solusinya. Bila ekosistem Danau Toba hancur, dampaknya akan mengurangi pasokan oksigen bagi wilayah hilirnya, termasuk kita yang hidup di Kota Medan ini," ujarnya.

Pada rapat itu disepakati perlunya ketegasan sekaligus sinergitas berbagai pihak mulai dari provinsi, kabupaten/kota dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di instansi terkait untuk mengembangkan Danau Toba ke depan. Kebersamaan tersebut diyakini akan memberi dukungan bagi pembangunan "Lake Toba Ecosystem Research Center" di Nainggolan, Kabupaten Samosir. (Ant/OL-06)

Sumber: http://mediaindonesia.com
Kredit Foto: http://www2.ac-lyon.fr/

Dibaca 1.291 kali

Share
Facebook

Tulis komentar Anda !




Custom Search