Tsulasa', 25 Dzul Hijjah 1435 (Senin, 20 Oktober 2014)
Loading

Workshop Tari Serampang XII di Taman Mini

 
Workshop Tari Serampang XII di Taman Mini
Ilustrasi: Buku Teknik Pembelajaran Dasar Tari Melayu

Jakarta -   Tari Serampang XII yang  mengalami kejayaannya di era Presiden Ir. Soekarno kini mulai terpinggirkan akibat derasnya arus globalisasi.

Tari Serampang  karya Sauti ini mulai ditinggalkan para generasi muda. Padahal tahun 50-an dan 60-an tari Melayu Deli ini  sudah diakui di tingkat nasional maupun mancanegara.

Dalam upaya melestarikan Tari Serampang XII, Ajungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan menggelar workshop tari karya Sauti.

“Kita terpanggil untuk melestarikan Tari Serampang 12 lewat Workshop. Bagimana pun tari karya Sauti ini tidak saja aset budaya Melayu Deli Serdang saja, tapi juga sudah menjadi aset nasional yang harus dilestarikan,” papar Kepala Anjungan Sumut TMII, Tatan Daniel, Sabtu (23/6).

Workshop Tari Serampang XII dengan narasumber Mayang Murni (Penari Serampang XII di era tahun 60-an), Sumarjo HP (Jakarta) dan Retno (Medan) dengan tema “Keanekaragaman Kembang Tari Serampang XII”.

Para peserta terdiri dari penari, sanggar se-Jabodetabek, IKJ, UNJ, pelajar dan guru-guru tari. peserta workshop akan mencapai lebih dari 150 orang.

“Dengan adanya workshop ini, diharapkan ke depannya Tari Serampang XII akan kian berkembang dan kembali dikenal para muda-mudi,” papar Tatan.

Digelarnya workshop tari Serampang 12 adalah mencari pedoman tentang teknik tari Serampang 12 bagi praktisi seni di Jakarta. “Tari Serampang 12 mempunyai banyak ragam. Dinamika teknik tari Serampang 12 semakin mempertegas perlu pedoman Tari Serampang 12,” kata praktisi tari asal Medan, Retno dalam pemaparan diskusi di Anjungan Sumut, TMII, Sabtu (23/6).

Retno juga kecewa, banyak penari Serapang 12 yang tidak kenal Sauti. “Padahal banyak orang mengenal tari Serampang 12, namun tidak mengenal pencipta tarinya.

Di banyak sanggar tari, tari karya Sauti ebih diutamakan bagimana mendapatkan secara cepat, tapi tidak diimbangi dengan bagimana  menarikannya secara tepat,” katanya.

Untuk diketahui, Tari Serampang 12 merupakan kesenian tari tradisional yang berasal dari Melayu. Waktu itu berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian Serampang Dua Belas diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari. Mengapa Tari Pulau Sari diganti dengan nama tari Serampang XII.

Nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step).

Menurut Tengku Mira Sinar, seorang pelaku seni Melayu, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut.

Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang.

Penamaan Tari Serampang Dua belas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih.

Sumber: http://www.poskotanews.com
Foto: http://www.adicita.com

Dibaca 539 kali

Tulis komentar Anda !



Ads

Adsense Indonesia