Pengunjung Online : 1.966
Hari ini :11.619
Kemarin :15.363
Minggu kemarin:120.950
Bulan kemarin:455.925

Anda pengunjung ke 48.886.107
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Sabtu, 29 Dzul Hijjah 1435 (Jumat, 24 Oktober 2014)
Custom Search
Beranda > Wisata Masjid > Masjid Sultan Ternate
Masjid Sultan Ternate
Kota Ternate - Maluku Utara - Indonesia
Masjid Sultan Ternate
Masjid Sultan Ternate
Rating : Rating 2.3 2.3 (8 pemilih)

A. Selayang Pandang

Mengunjungi Pulau Ternate yang dikenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah terbesar di kawasan Maluku, wisatawan akan disuguhkan peninggalan-peninggalan bersejarah yang menunjukkan kebesaran Kesultanan Ternate pada zamannya. Salah satunya adalah Masjid Sultan Ternate yang menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur Nusantara ini. Kesultanan Ternate mulai menganut Islam sejak raja ke-18, yaitu Kolano Marhum yang bertahta sekitar 1465—1486 M. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486—1500), yang makin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam dengan mengganti gelar Kolano menjadi Sultan, menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, memberlakukan syariat Islam, serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.

Sebagaimana ditulis oleh melayuonline.com, Masjid Sultan ini diperkirakan telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin, namun ada juga yang beranggapan bahwa pendirian Masjid Sultan baru dilakukan awal abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1606 saat berkuasanya Sultan Saidi Barakati. Hingga sekarang, belum ditemukan angka valid sejak kapan sebetulnya Masjid Sultan Ternate didirikan. Akan tetapi, melihat kenyataan sejarah, demikian wapedia.mobi, sebelum Sultan Saidi Barakati naik tahta, Kesultanan Ternate telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di bidang keagamaan, ekonomi, maupun angkatan perang. Perjuangan Sultan Khairun (1534-1570) yang dilanjutkan oleh penerusnya, yaitu Sultan Baabullah (1570-1583) untuk mengusir pasukan Portugis, misalnya, menjadi salah satu fase kegemilangan Kesultanan Ternate—sekitar setengah abad sebelum berkuasanya Sultan Saidi Barakati. Sehingga, perkiraan bahwa Masjid Sultan Ternate baru dibangun pada awal abad ke-17 tidak memiliki alasan yang cukup kuat.


Gambar kuno Masjid Sultan Ternate
Sumber Foto: www.kota-ternate.go.id

Sebagaimana Kesultanan Islam lainnya di Nusantara, Masjid Sultan Ternate dibangun di dekat Kedaton Sultan Ternate, tepatnya sekitar 100 meter sebelah tenggara kedaton. Posisi masjid ini tentu saja berkaitan dengan peran penting masjid dalam kehidupan beragama di Kesultanan Ternate. Tradisi atau ritual-ritual keagamaan yang diselenggarakan kesultanan selalu berpusat di masjid ini. Masjid Sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu dengan bahan perekat dari campuran kulit kayu pohon kalumpang. Sementara arsitekturnya mengambil bentuk segi empat dengan atap berbentuk tumpang limas, di mana tiap tumpang dipenuhi dengan terali-terali berukir. Arsitektur ini nampaknya merupakan gaya arsitektur khas masjid-masjid awal di Nusantara, seperti halnya masjid-masjid pertama di tanah Jawa di mana atapnya tidak berbentuk kubah, melainkan limasan.

B. Keistimewaan

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Sultan Ternate yang disebut juga Sigi Lamo terkenal unik karena memiliki aturan-aturan adat yang tegas, seperti larangan memakai sarung atau wajib mengenakan celana panjang bagi para jamaahnya, kewajiban memakai penutup kepala (kopiah), serta larangan bagi perempuan untuk beribadah di masjid ini. Berbagai aturan ini konon berasal dari petuah para leluhur (yang disebut Doro Bololo, Dalil Tifa, serta Dalil Moro) yang hingga kini masih ditaati oleh masyarakat Ternate, terutama di lingkungan kedaton.

Menurut keterangan Imam Masjid Sultan Ternate yang bergelar Jou Kalem atau Kadhi (dalam news.okezone.com), larangan-larangan tersebut memiliki dasar aturan yang kuat. Sejak dahulu, masjid memang menjadi salah satu tempat yang dianggap suci dan harus dihormati oleh masyarakat Ternate. Larangan kaum hawa untuk beribadah di masjid ini didasarkan pada alasan untuk menjaga kesucian masjid, yaitu supaya tempat ibadah ini terhindar dari ketidaksengajaan perempuan yang tiba-tiba saja datang bulan (haid). Di samping itu, kehadiran perempuan ditengarai juga dapat memecah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah di masjid ini.

Sementara larangan bagi jamaah yang memakai sarung atau pakaian sejenisnya didasarkan pada alasan yang bersifat tasawuf. Menurut kepercayaan mereka, posisi kaki pria ketika sholat dengan mengenakan celana panjang menunjukkan huruf Lam Alif terbalik yang bermakna dua kalimat syahadat. Hal ini sebagai perlambang bahwa orang tersebut telah mengakui ke-Esa-an Allah dan Muhammad sebagai utusannya, sehingga jiwa dan raganya telah siap untuk melaksanakan ibadah shalat. Oleh sebab itu, setiap pria yang akan melaksanakan ibadah wajib mengenakan celana panjang.

Untuk menertibkan aturan-aturan adat ini, setiap datang waktu shalat, Balakusu (penjaga masjid) akan mengawasi setiap orang yang hendak memasuki masjid. Jika ada jamaah yang memakai sarung, maka akan ditegur dan disuruh mengganti dengan celana panjang. Jika tidak, maka jamaah tersebut disarankan untuk shalat di tempat lain. Tak hanya wajib mengenakan celana, para jamaah juga diharuskan memakai penutup kepala atau kopiah. Hal ini agar para jamaah tidak terganggu oleh helai-helai rambut ketika sedang melakukan shalat. Berbagai macam aturan ini berlaku tidak pandang bulu, sehingga harus ditaati oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk sultan dan para kerabatnya.

Di samping peraturan-peraturan unik tersebut, berbagai ritual keagamaan yang diselenggarakan oleh pihak kesultanan juga menambah daya tarik tersendiri bagi masjid ini. Salah satu tradisi yang setiap tahun diadakan di Masjid Sultan Ternate adalah Malam Qunut yang jatuh setiap malam ke-16 bulan Ramadhan. Dalam tradisi ini, sultan dan para kerabatnya dibantu oleh Bobato Akhirat (dewan keagamaan kesultanan) mengadakan ritual khusus yaitu Kolano Uci Sabea, yang berarti turunnya sultan ke masjid untuk shalat dan berdoa.


Sultan menuruni tangga kedaton untuk menuju masjid
Sumber Foto: molied.multiply.com

Kolano Uci Sibea biasanya dimulai dari kedaton menuju masjid untuk melaksanakan shalat Tarawih. Sekitar pukul setengah delapan waktu setempat, sultan akan ditandu oleh pasukan kerajaan menuju masjid dan diiringi alunan alat musik Totobuang (semacan gamelan) yang ditabuh oleh sekitar dua belas anak kecil yang mengenakan pakaian adat lengkap di depan tandu sultan. Konon, alat musik ini merupakan pemberian Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) ketika salah seorang Sultan Ternate berguru kepadanya.

Sebelum shalat Tarawih dilakukan, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut sebagian orang, ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empat Soa (kelurahan pertama) di daerah Ternate. Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan Dufa-dufa), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid sultan sendiri. Namun, ada juga yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Keempat kerajaan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat biasa disebut Moloku Kie Raha (pemangku empat gunung atau kerajaan).


Suasana ibadah di dalam masjid
Sumber Foto: molied.multiply.com

Usai melaksanakan Tarawih, sultan akan pulang ke kedaton dengan ditandu kembali seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di kedaton sultan bersama permaisuri (Boki) akan memanjatkan doa di ruangan khusus, tepatnya di atas makam keramat leluhur. Usai berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Tentu saja, pertemuan langsung antara sultan dan rakyatnya ini menarik minat masyarakat di seluruh Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya.


Sultan menerima penghormatan rakyatnya di Kedaton Sultan Ternate
Sumber Foto: molied.multiply.com

Dalam satu tahun, ritual Kolano Uci Sabea dilaksanakan empat kali, antara lain pada Malam Qunut, Malam Lailatul Qadar (keduanya pada bulan Ramadhan), serta pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pelaksanaan Kolano Uci Sabea dilakukan secara turun temurun oleh setiap Sultan Ternate hingga kini. Menurut kepercayaan, dalam kondisi apapun Kolano (Sultan) memang harus melakukan Sabea (salat) di Sigi Lamo (Mesjid Sultan).

Selain mengunjungi masjid tua peninggalan Kesultanan Ternate ini, wisatawan juga dapat mengunjungi obyek wisata sejarah lainnya, seperti Kedaton Kesultanan Ternate, Benteng Orange, Benteng Kastela, Benteng Sentosa, serta benteng-benteng peninggalan kolonial lainnya.

C. Lokasi

Masjid Sultan Ternate terletak di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Indonesia.

D. Akses

Kota Ternate merupakan ibu kota sementara Provinsi Maluku Utara. Di kota ini wisatawan dapat menempuh perjalanan udara baik dari Ambon, Manado, Makassar, maupun dari Sorong menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Selain jalur udara, wisatawan juga dapat memanfaatkan pelayaran kapal-kapal Pelni yang merapat di Pelabuhan A. Yani Ternate. Selain pelabuhan A. Yani, ada dua pelabuhan lain di Kota Ternate yang melayani pendaratan kapal Ferry, yaitu Pelabuhan Fery serta Pelabuhan Bastiong. Dari bandara maupun pelabuhan laut, wisatawan dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi untuk mengunjungi kawasan Masjid Sultan Ternate.

E. Harga Tiket

Masyarakat yang ingin beribadah ataupun sekedar melihat-lihat bangunan kuno Masjid Sultan Ternate tidak dipungut biaya. Hanya saja, setiap pengunjung masjid atau calon jamaah diwajibkan menaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh adat setempat.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Ketatnya peraturan untuk beribadah di Masjid Sultan Ternate boleh jadi membuat calon wisatawan urung menikmati kekhusyukan beribadah di masjid ini. Namun, pihak takmir masjid sendiri telah memfasilitasi para jamaah yang tidak membawa kopiah dengan cara menyediakan puluhan kopiah dengan berbagai ukuran untuk dipinjamkan kepada para jamaah.

Jika memiliki waktu yang cukup panjang untuk menikmati pesona sejarah, budaya, dan alam Kota Ternate tak perlu khawatir dengan fasilitas-fasilitas penunjang di kota ini. Sebab, di Kota Ternate telah dilengkapi berbagai penginapan, restoran, pusat perbelanjaan, serta fasilitas telekomunikasi seperti warung Telkom dan lain-lain.

(Lukman Solihin/41/02-09)

__________

Daftar Pustaka:

  • “Kesultanan Ternate”, artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari wapedia.mobi
  • “Masjid Sultan Ternate”, artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari melayuonline.com
  • “Perempuan Dilarang Salat di Masjid Sultan Ternate” , artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari news.okezone.com
  • “Bersarung Juga Dilarang di Masjid Sultan Ternate”, artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari acehlong.com
  • “Masjid Sultan Ternate Memiliki Aturan yang Ketat”, artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari www.media-indonesia.com
  • “Upacara Suci di Masjid Ternate”, artikel diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari ramadhan.okezone.com

Sumber Foto Utama: Hans-Ernst


Share
Facebook
Dibaca 11.838 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

faisal rian sah   23/05/09 05:25
jailolo jl Gamalamo jalbarmoro

pada awalnya ino ngom moi-moi fosihida gam se fo palihara afa
mara madihuru kara ngom manyasal.
peliharalah dan jagalah hasil hasil alam...
kalau bukan kita siapa lgi...
satukan lah hati kita jangan sampai direbut oleh orang...
Mahmud K   07/08/09 11:50
Kompleks Istiqamah Mandai Permai Maros

Subhanallah. Gambar dan penjelasan di atas menunjukkan kebesaran kesultanan Ternate. Pantas bila waktu itu sultan Ternate disapa dengan Khalifah. Yang menunjukan kebesaran kekuasaan dan kharisma Ternate di kawasan timur Nusantara.
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads