Pengunjung Online : 657
Hari ini :5.207
Kemarin :9.882
Minggu kemarin:108.773
Bulan kemarin:455.925

Anda pengunjung ke 48.916.980
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Sabtu, 07 Muharam 1436 (Jumat, 31 Oktober 2014)
Custom Search
Tari Cakalele
Kabupaten Maluku Tengah - Maluku - Indonesia
Tari Cakalele
Tarian Cakalele di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah
Rating : Rating 2 2 (31 pemilih)

A. Selayang Pandang

Cakalele merupakan  tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan  perempuan. Para penari laki-laki mengenakan  pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan  penari menggenggam senjata pedang (parang)  di sisi kanan dan tameng (salawaku)  di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna  putih.

Sedangkan penari perempuan mengenakan pakaian warna putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Para penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan diiringi  musik beduk (tifa), suling, dan  kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele  disebut juga dengan tari kebesaran, karena digunakan untuk penyambutan para tamu agung seperti tokoh agama dan pejabat pemerintah yang berkunjung ke bumi  Maluku.

B. Keistimewaan

Keistimewaan tarian ini terletak pada tiga fungsi simbolnya. (1) Pakaian berwarna merah pada kostum  penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroisme terhadap bumi Maluku, serta keberanian  dan patriotisme orang Maluku ketika menghadapi perang. (2) Pedang pada tangan  kanan menyimbolkan harga diri warga Maluku yang harus dipertahankan hingga  titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku)  dan teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian menyimbolkan gerakan  protes terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepada  masyarakat.

C. Lokasi

Tarian Cakalele  dapat ditemui di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.  

D. Akses Menuju Lokasi

Dari Ambon, Ibukota Provinsi Maluku, wisatawan dapat naik angkutan umum berupa minibus jurusan Tulehu, dengan biaya Rp. 7.500. Kemudian dilanjutkan dengan naik speed boat menyeberang Selat Tulehu, menuju  Pulau Haruku, dengan waktu tempuh 30 menit dan per-orang dikenakan biaya Rp.  30.000

E. Tiket Masuk

Untuk menonton pertunjukkan tari tradisional ini pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk.

F. Fasilitas dan Akomodasi

Di Pulau Haruku dapat ditemui beberapa wisma penginapan (guest  house) dan warung-warung kecil yang menyediakan makanan khas lokal Maluku Tengah.

(Hatib Abdul Kadir/12/02/08)
__________

Sumber Foto: www.halmaherautara.com


Share
Facebook
Dibaca 32.161 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

venn   24/05/08 07:28

tarian cakalele tersebut sangat menarik
Ir. Willem J. Pattiradjawane   03/11/08 10:33
Jl. Taman Malaka Selatan 3 Blok B5 No.18 Jakarta 13460 Tel 021 864 3972; HP 0856 93410974

Surat Terbuka Kepada
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Ir. Jero Wacik, Se.

Dengan hormat,
Terinspirasi tulisan dan foto Tarian Cakalele dalam www.wisatamelayu.com ini, saya bermaksud menanggapi sekaligus sebagai sebuah Surat Terbuka kepada Bapak Menteri.
Dari informasi yang saya peroleh, sampai surat ini dibuat, setidaknya ada 3 negeri di Pulau Haruku yang akan melangsungkan upacara adat pengangkatan raja. Negeri-negeri Samet dan Kariu (hampir pasti 26 November 2008), serta Haruku (belum ada jadwal tapi kemungkinan besar sebelum akhir 2008). Dalam setiap upacara adat pengangkatan raja itu, Tarian Cakalele adalah salah satu mata acaranya. Bila kembali ke tulisan dan foto Tarian Cakalele dimaksud, perlu kiranya lebih dirinci beberapa hal terkait kegiatan pariwisata. Hal ini menurut hemat saya, seyogyanya mendapat perhatian Bapak Menteri.
Pertama, bahwa tanggal pengangkatan raja (menjadi kebiasaan di Maluku Tengah disatukan harinya dengan pelantikan oleh pemerintah daerah serta upacara keagamaan), memang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten berserta perangkat pemerintah di bawahnya: kecamatan dan pemerintah negeri. Dalam praktiknya, tidak semudah itu mendapatkannya. Saya membayangkan media ini yang bertarikh 3 November 2008 seharusnya sudah memiliki jadwal upacara (minimal) kedua negeri tersebut. Mengingat tulisan dan foto terkait sudah sangat spesifik: Pulau Haruku—Tarian Cakalele pula. Tapi, jangankan Anda www.wisatamelayu.com , kami pun—dari mataruma yang calonnya akan dilantik--sampai saat ini masih menunggu kepastian tanggal. Padahal Pak Bupati sudah menetapkan rentang waktu berdasarkan masukan dari bawahannya. Bila hal ini dikaitkan dengan sarana pariwisata seperti jadwal penerbangan serta hotel untuk transit, betul-betul sangat tak mendukung.
Kedua, bila disebutkan dari Tulehu di Ambon menuju ke Pulau Haruku, seharusnya negeri mana yang dituju. Dengan speed boat ada banyak pilihan, karena bisa carter. Tapi bisa juga dengan ferry yang terjadwal (dapat membawa mobil pribadi) yang hanya menuju satu pelabuhan di Haruku: Wairiang, di Negeri Kailolo. Dan jadwal ferry pun hanya tiga kali seminggu. Guest house pun perlu dirinci, ada di negeri mana. Berapa tarifnya, bagaimana akomodasinya, menunya, dst. Termasuk transportasi dari guest house ke negeri yang akan melangsungkan upacara pengangkatan raja. Di Kariu, misalnya, tidak ada guest house. Padahal upacara adat di Kariu dimulai sebelum matahari terbit, sekitar pukul 5 pagi (sangat menarik bukan Pak Menteri). Tapi dari Wairiang ke Negeri Hulaliu melewati antara lain Kariu terbentang jalanan beraspal yang dilewati angkot. Sebuah kemudahan untuk membawa mobil pribadi langsung dari kota Ambon.
Ketiga, segi keamanan. Negeri seperti Kariu, yang baru memasuki tahun ketiga sejak pengungsian-6-tahun di petuanan Negeri Aboru (Tenggara Pulau Haruku), cukup sensitif terhadap faktor yang satu ini. Pihak kepolisian yang memiliki Polsek di Negeri Pelau (tetangga Negeri Kariu), terbukti telah bekerja baik dan profesional. Mereka tentunya akan bekerja lebih baik lagi bila ada turis mancanegara yang hadir. Keempat, Tarian Cakalele adalah bagian dari adat di daerah Maluku Tengah. Tak terbatas Pulau Haruku saja. Para lelaki dengan parang besi dan bertelanjang dada (tanpa kaos oblong atau singlet) adalah bagian dari adat itu. Memodifikasinya, apapun alasannya, sangat tidak direstui para tetua adat.
Kelima, ini terakhir dan penutup Pak Menteri. Apa yang saya kemukakan di atas terkesan teknis-detil dan remeh-temeh. Tapi menurut hemat saya, problem kita di Indonesia adalah ketidaksetiaan kita pada hal-hal kecil. Persoalan jadwal pengangkatan raja, atau sebuah guest house yang memadai, telah cukup untuk merobohkan sebuah potensi besar menarik seorang wisman sekalipun. Padahal sedang terjadi perubahan besar dan radikal dalam masyarakat dan pemerintahan Maluku Tengah hari-hari ini. Maluku Tengah sedang berproses “menjadi diri sendiri”. Sistem pemerintah desa yang dipaksakan selama hampir 3 dasawarsa tiba-tiba dicabut. Ada “kegamangan”. Tapi jelas, ini bukan sebuah komoditi yang dikemas. Jadi, silakan datang, saksikanlah kami yang sedang berproses.
Terima kasih atas perhatian Bapak Menteri.
Hormat saya,
Ir. Willem J. Pattiradjawane
(Penulis lepas masalah ketenagalistrikan; Anggota “Teater Ketjil” pimpinan alm. Arifin C Noer dan Jajang C Noer; Adik kandung calon Raja Negeri Kariu Drs. Herman Pattiradjawane M.Si; tinggal di Jakarta).
Richard Sahetapy   29/01/09 03:40
Jakarta

tarian cakalele sangat menarik dan mengandung makna sejarah kehidupan masyarakat Maluku dalam peperangan.
viea   05/08/09 01:40
Jln. sukaasih bandung

dari tahun berapa adanya upacara adat itu?
Intan   10/03/10 02:33
Madura

Cakalele dari Indonesia ya? keren banget... ada tempat kursusnya gak ya?
malona hatuhaha   28/04/11 04:52
ambon

Tarian Cakalele sangat menarik dan telah menjadi ciri khas orang maluku. boleh tahu dari mana gambar yang saudara ambil? . . . karena sebagai anak daerah asli yang berasal dari sumber gambar yang anda ambil bukanlah berasal dari daerah kami . . . mohon penjelasannya . . .
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads