Khamis, 02 Dzul Qa'dah 1438 (Rabu, 26 Juli 2017)
Loading

Mengunjungi Orang Melayu di Bali

 
Mengunjungi Orang Melayu di Bali

Oleh Yusuf Efendi

Wisata Bali tidak hanya  menawarkan keindahan alam dan budayanya saja. Bali ternyata juga menyuguhkan  wisata kebhinekaan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Siapa yang  menyangka jika di Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana, terdapat komunitas  orang Melayu yang berkehidupan di sana. Keberadaan mereka semakin menunjukkan  bahwa kekuatan Indonesia terletak pada keberagaman masyarakatnya.

Mulanya, saya agak  tidak percaya dengan keberadaan orang Melayu di Bali, apalagi mereka  sudah ratusan tahun bermukim di sana. Sepengetahuan saya, di Bali hanya  dihuni oleh etnis asli daerah itu, jika pun ada suku bangsa dari etnis  lain, itu akibat migrasi yang terjadi belakangan, bukan semenjak zaman  Bali masih eksis sebagai sebuah kerajaan di masa lalu. Hebatnya, orang-orang  Melayu di Bali hidup berdampingan dengan penduduk asli. Satu hal yang  berkesan adalah, identitas kemelayuan mereka tetap tampak dan tidak  mengusik kebudayaan Bali.

Asal-usul Orang  Melayu di Bali

Menurut sejarah Indonesia  yang saya baca, kedatangan orang Melayu di Bali berkait dengan kejatuhan  Kerajaan Wajo di Makassar, Sulawesi Selatan, ke tangan Belanda pada  1667. Belanda merasa bahwa keturunan Sultan Wajo harus dibasmi karena  bisa menjadi ancaman. Rombongan Sultan Wajo pun melarikan diri hingga  akhirnya sampai ke daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah Jembrana,  Bali. Atas izin I Gusti Ngurah Pancoran yang berkuasa di Jembrana kala  itu, pelabuhan tempat mereka berlabuh diberi nama Bandar Pancoran, yang  terletak di Kampung Loloan Barat.

Sejak saat itu, banyak  orang Bugis datang ke Jembrana. Mereka menggunakan perahu Pinisi dan  Lambo mengarungi samudera. Pada abad ke-18 M, datang rombongan orang  Melayu dari Pontianak yang dipimpin oleh Syarif Abdullah bin Yahya Al-Qadry.  Anak Agung-Jembran  Putu Seloka (1795-1842), raja ketiga di Jembrana yang berkuasa kala  itu, membolehkan rombongan Syarif untuk tinggal di Loloan.

Dalam rombongan tersebut,  terdapat juga orang Melayu dari Terengganu (Malaysia) bernama Ya`qub.  Ia menikah dengan penduduk Melayu yang sudah lebih dulu datang. Nama  Ya`qub disebut dalam Prasasti Melayu yang disimpan di Masjid Al-Qadim,  Loloan, yang telah ada sejak era 1600-an Masehi. Di pelataran masjid  itu pula Ya`qub dimakamkan.

Orang-orang Melayu  diterima di Bali karena mereka bersedia membantu Kerajaan Jembrana ketika  diserang kerajaan lainnya. Sebagai imbalannya, mereka dihadiahi sebidang  tanah untuk tempat bermukim. Eksistensi budaya Melayu di Bali bertambah  kuat dan kokoh ketika para keturunan orang Melayu di Bali membangun  pesantren setelah pulang dari Mekkah untuk belajar agama.

Suasana Kampung  Melayu di Bali

Orang Melayu di Bali  mayoritas tinggal di dua kampung, yaitu Loloan Barat dan Loloan Timur.  Saat ini, jumlahnya kurang lebih 55.000 jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari,  mereka hidup dengan adat-istiadat Melayunya. Tak heran jika saat memasuki  kedua kampung ini, suasana Melayu akan sangat terasa. Orang Melayu di  sana umumnya beragama Islam dan berpakaian Melayu. Di kampung itu berdiri  masjid dan sejumlah pesantren.

Orang Melayu sangat  terbuka dengan orang Bali dan adat-istiadat lokal di sana. Orang Melayu  ikut menghormati jika orang Bali merayakan Nyepi. Begitu juga sebaliknya,  orang Bali sangat menghormati orang Melayu yang kerap menyelenggarakan  acara-acara bernuansa Islam. Pemandangan ini betul-betul menentramkan  saya.

Dalam kesehariannya,  orang Melayu di Bali memakai bahasa Melayu. Mereka mengganti kata saya  dengan awak, kamu dengan kau, atau dia dengan die. Namun, tidak sedikit pula bahasa Melayu terpengaruh dengan Bahasa Bali.  Menurut informasi yang saya baca, pada mulanya orang Melayu di Bali  umumnya berbahasa Bugis. Akan tetapi, tersebab dakwah agama waktu itu  menggunakan bahasa Melayu, bahasa Bugis menjadi agak tersisih dan digantikan  dengan bahasa Melayu.

Orang Melayu di Bali  tinggal di rumah-rumah panggung berbahan kayu kendati sekarang sudah  banyak rumah orang Melayu yang berpondasi tanah. Meskipun demikian,  corak Melayu tetap tak hilang dari rumah mereka. Penduduk Melayu di  Bali juga sering menampilkan pertunjukkan seni Melayu, seperti rebana  dan silat ala Bugis. Semua yang saya lihat di Loloan, Bali, ini adalah  bukti kebhinekaan Indonesia. Tugas kita selanjutnya adalah menjadikan  kebhinekaan itu sebagai semangat untuk mencari persamaan manusia, bukan  memperuncing perbedaannya.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur MelayuOnline.com dan WisataMelayu.com

Sumber Foto: http://bambangpriantono.multiply.com

Dibaca 4.278 kali

Tulis komentar Anda !



Ads